header coretan ibu kiya

Cendol Legendaris Pasar Bandarjo

Posting Komentar
Jajan pasar
Cendol Legendaris

Assalamualaikum.
Halohaaa … bagaimana kabarnya hari ini? Cuaca akhir-akhir ini sedang ekstrem ya, Mak. Kalau siang panas terik, kalau malam dinginnya membekukan badan. Begitu juga di Ungaran.

Di saat seperti ini, es menjadi idola yang paling dicari. Bahkan hanya dengan membayangkan kesegarannya saja seolah rasa dahaga ikut menepi, meski sesaat. Ya kali, cuma ngebayangin tanpa minum sungguhan bisa hilang haus beneran. Itu mah dalam drama adanya. Mhuahahaaa ….

Siang ini sepulang dari nganter paket buku pesanan, si Ibu minta diantar mampir ke pasar Ungaran. Tentu saja untuk berburu es legendaris yang sudah lama membuat Ibu Kiya memendam rindu yang mendalam.

Es cendol imut, begitu Ibu Kiya menyebutnya. Entah apa nama sebenarnya, karena memang tak ada identitas maupun penanda pada gerobaknya.

Es ini sudah ada sejak zaman baheula. Tak paham juga kapan tepatnya, yang pasti sejak zaman ibu Kiya masih unyu-unyu, masih TK kala itu … es ini sudah ada.

Kuliner Ungaran
Cendol Imut

Semenjak pasar Ungaran kebakaran pada tahun 2007 lalu, ibu Kiya sempat kehilangan jejaknya. Perombakan posisi kios menyebabkan pembeli kesulitan mencari pedagang yang sudah menjadi langganan. Termasuk keberadaan es cendol legendaris ini.

Beberapa bulan yang lalu, tanpa sengaja menemukan postingan seseorang di grup Ungaran tentang es cendol imut, tetapi baru kali ini punya waktu untuk mencari. Ternyata sekarang tersembunyi di sisi kiri belakang pasar, tepat di bawah deretan warung makan Pasar Bandarjo Ungaran.

Hwuaa … begitu bertemu dan merasakannya … sama persis. Tak ada yang berubah dengan kekhasan dan kenikmatannya. Meski puluhan tahun telah berlalu, dan sang penjual pun bukan Bapak yang dulu.

Es cendol ini hanya terdiri dari cendol yang super kecil (lembut) berwarna pink (sekarang), kalau zaman ibu Kiya kecil dulu berwarna hijau, dicampur dengan santan, dan gula Jawa. Dalam penyajiannya dilengkapi dengan es gosrok. Iya, es batu yang digosrok jadi lembut dan membentuk kuncup seperti gunung gitu. Jadul banget kan? Hihihiii … Bagi yang suka manis, bisa ditambah toping susu coklat di atasnya. Hmmm … neomu mashisseoyo. 😋

Bagaimana dengan harganya? Hahaaa … jangan ditanya. Segelas es cendol legendaris ini tak terpengaruh dengan isu kenaikan BBM dan kabar miring krisis moneter. Cukup 3000 rupiah saja, tak hanya menghilangkan dahaga, tetapi juga mengajak nostalgia ke masa kecil yang luar biasa. Ah, benar-benar istimewa.
😍😍😍

___

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#Day19
Nining Purwanti
Selamat datang di blog Ibu Kiya. Ibu pembelajar yang suka baca, kulineran, jalan-jalan, dan nonton drama Korea. Selamat menikmati kumpulan coretan ibu Kiya, semoga ada manfaat yang didapat ya. ��

Related Posts

Posting Komentar